Tentang Pantai Habe

Keindahan alam Papua tak hanya di punggung Utara pulau cenderawasih semata. Di bagian selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Merauke, ada sebuah pulau yang sangat elok. Namanya Pulau Habe. Pulau ini terletak di Kampung Wambi.

Tentang Bandara Mopah Merauke

Sebagai satu-satunya Airlines yang tetap mempertahankan komitmen membangun tanah Papua sejak beroperasinya PT. Merpati Nusantara tahun 1962 hingga sekarang, maka seiring dengan perkembangan pemekaran wilayah Papua dan Kabupaten Merauke.

Tentang Tugu Libra 969

Bupati Merauke Drs Romanus Mbaraka, MT akhirnya meresmikan Tugu Lingkaran Brawijaya (Libra) 969. Dalam peresmian tersebut, Bupati Romanus membeberkan secara blak-blakkan ihwal makna dari angka 969.

Tentang Pelabuhan Merauke

Dermaga pelabuhan Merauke dengan panjang 158 M, Draft 6 M dan GT 7.341 dapat disinggahi oleh kapal penumpang dan kapal perintis. Dermaga Merauke merupakan pelabuhan utama yang ada di Kabupaten Merauke.

Tentang Kepala Daerah Merauke

Bupati Merauke, Bpk. Romanus Mbaraka, adalah satu dari 30 Bupati/ Walikota terbaik yang menerima piagam penghargaan dari Kemendagri melalui Sekjen Diah Anggraeni pada bulan Oktober yang lalu untuk Program Innovative Government Awards-IGA 2012.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, 30 March 2014

Kearifan Lokal Marori Sebagai Potensi Wisata Kabupaten Merauke

Oleh : Agustinus Mahuze

Mengutip Pendapat ahli marketing Hermawan Kertadjaya “Peluang dalam dunia pariwisata Internasional akan terbuka sangat luas dengan melihat berbagai macam perubahan yang terjadi ,namun disisi lain persaingan juga sangat sengit .Setiap negara berlomba-lomba mempertahankan turis domestiknya dan mencoba menarik turis Internasional.Dengan diprediksikan bahwa pada tahun 2015 pada negara –negara berkembang akan menerima kunjungan Turis internasional yang akan lebih besar di bandingkan dengan negara Maju.

Jumlahwisatawan internasional  mengalami pelonjakan hampir 1,1 miliar sepanjang 2013. Meskipun terjadi masalah ekonomi global di beberapa negara, pertumbuhan pariwisata tujuan Asia Tenggara begitu cepat. Kenaikan pertumbuhan pariwisata ini bertepatan dengan melemahnya perekonomian hampir di seluruh negara .

Meskipun terjadi banyak masalah, pertumbuhan jumlah wisatawan tahun lalu mengalahkan ekspektasi . Pertumbuhannya melonjak sebesar lima persen menjadi 1,09 miliar wisatawan. Dalam sebuah pernyataan, Organisasi Pariwisata Dunia PBB (World Tourism Organization/WTO) menyatakan bahwa pertumbuhan akan terus berlanjut pada 2014 ini.Seperti yang dikutip melalui Okezone.com “Sektor pariwisata telah menunjukkan kapasitas yang luar biasa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pasar, mendorong pertumbuhan, dan penciptaan lapangan kerja di seluruh dunia meski terjadi goncangan ekonomi dunia,” kata Taleb Rifai, Sekretaris Jenderal Badan PBB .

Diperkirakan pariwisata internasional akan tumbuh 4-5 persen di 2014. Semua negara didesak memajukan industri pariwisata masing-masing. Kunjungan yang mengalami pertumbuhan sangat signifikan dan tercepat di tahun 2013 adalah kawasan Asia-Pasifik, pencapaiannya naik enam persen menjadi 248 juta wisatawan. Asia Tenggara mengalami kenaikan dalam  jumlah kedatangan naik sebesar 10 persen.

Untuk Eropa sendiri tetap menjadi tujuan terbesar secara keseluruhan, dengan kedatangan wisatawan internasional naik lima persen menjadi 563 juta orang. Di Amerika, kedatangan wisatawan tumbuh sebesar empat persen, yaitu menjadi 169 juta wisatawan. Sementara, Afrika kedatangan 56 juta wisatawan internasional, tumbuh enam persen dari tahun sebelumnya.

Konteks diatas adalah  sebuah paradigma yang sifat fluktual ,  perubahan masyarakat soal Pasar  industri  pariwisata .Setiap negara dituntut secara cermat untuk memetahkan potensi ini sebagai ladang bagi pemasukan .Jika pemasukan ini akan meningkat  maka secara keseluruhan daya saing ekonomi masyarakat dapat terjamin  .Dalam konteks pengembangan daerah melalui kewenangan otonomi khusus yang dimiliki maka setiap kebijakan hendaknya mempertimbangkan aspek partisipatif sebagai Instrumen kebijakan yang interaktif .Sehingga arah perubahan masyarakat dapat terjalin dengan baik . Segala macam perubahan yang ada telah membuat dunia pariwisata berevolusi .Untuk para travel bisnis player perlu memahami bagaimana evolusi itu terjadi sehingga itu menjadi appleaing bagi costumer.

Dalam wacana pengembangan Pariwisata di Merauke perlu dilakukan pengkajian yang strategis untuk merekonstruksi pemikiran berkaitan dengan kebijakan maupun eksekusi pelaksanaan pengembangan pariwisata di Merauke .Salah satu Instrumen adalah tata kelola melalui kebijakan aturan yang konstruktif yang sinergisdan pemetaan potensi wisata .Pemetaan potensi Wisata merupakan wacana yang sifatnya konstruktif untuk merencakan secara strategis yang berkelanjutan.Upaya ini sebagai salah satu cara untuk membangun sinergi yang harmonis  .Sehingga stokholderdidaerah  di dalam pengambilan Keputusan bersama berdasarkan kajian yang utuh .Semua  dilibatkan sehingga acuan pengembangan masyarakat dapat berjalan dengan baik .Untuk mencapai tata kelola tersebut ,ada perencanaan strategis di  yang bisa konstribusikan sebagai usaha untuk membangun  dunia pariwisata Merauke.

Seperti yang dikemukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang dikutip melalui kantor berita ANTARA ‘Pemerintah sedang berupaya untuk menggali potensi wisata Merauke di Papua. Pihaknya menggandeng para pemangku kepentingan di Kabupaten Merauke meliputi kepala-kepala adat, pastor, dan satuan kerja di Pemkab Merauke. Faried menyarankan agar pengembangan bertahap dilakukan paralel antara pengembangan aksesibilitas dan sarana pendukung pariwisata lainnya. Menurut Faried, masih banyak potensi wisata yang bisa digali di wilayah itu mengingat belum banyaknya wisatawan yang mengenal Merauke secara khusus. Namun Dinas Pariwisata Merauke mencatat jumlah wisatawan nusantara yang mengunjungi Merauke pertahun rata-rata sudah mencapai 6.000 orang. Memang sudah ada Festival Dambu di Kecamatan Kimaan yang merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Merauke.

Berpijak dari Konteks diatas Konstruksi  gagasan untuk pengembangan potensi pariwisata di rencanakan adalah Wisata Spiritual .Pemetaan untuk pengembangan  yakni kampung Wasur  yang berada di Taman NasionalWasur Sebagai Pilot Project Pengembangan Shamanic Tourism  .Untuk pemetaan Kampung Potensi .Kajian ini lebih menitikberatkan pada konsep heritage .

Dalam kaitannya dengan pengembangan Tourism sebagai konsep wisata yang sifatnya Culture. Maka Konsep pengembangan  Ini merujuk  ini menitikberatkan pada persepsi  para turis merekonstruksi gagasan mereka bagaimana sebuah peradaban berkembang   serta di pelajari melalui pengamatan dan terlibat lansung di dalam kegiatan wisata .Berdasarkan riset yang telah di lakukan maka dikumpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan konsepheritage .

Kerangka yang disusun merupakan langkah awal dari tahapan kegiatan dan perencanaan pengembangan wisata budaya sebagai bagian yang integral dari sebuah Produk Wisata bernama Wisata Shamanic Wasur atau Wasur Tourism Shamanic. Pemetaan ini memiliki urgensi dalam bentuk kemasan yang diPromosikan.
Berdasarkan kajian riset  yang telah disusun dan diasumsikan sebagai salah salah satu komoditas pariwisata yang dapat di promosikan  kedalam dan luar negeri maka Pemetaan ini menjadi Instrument yang penting bagi tata pengelolahan serta usaha dan Promosi kegiatan Wisata berbasis kebudayaan demi menunjang pendapatan asli daerah Merauke melalui kunjungan Wisata.

Langkah promosi ini akan ditentukan berdasarkan kesepakatan dan kesepahaman didalam kerangka kerja Institusi yang telah berpengalaman mengelolah kegiatan wisata didaerah Merauke . Institusi yang memiliki  kaitan dalam program atau kegiatan wisata ini.*

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana S2  Psikologi Pendidikan Mercubuana Univercity Jogjakarta/Konsultan Wisata Spiritual

Thursday, 27 March 2014

Partisipasi Pemilih: Hasil Survei dan Harapan

Oleh Nusarina

Pesta demokrasi lima tahunan yakni pemilihan umum untuk memilih anggota DPR, DPRD dan DPD pada 9 April 2014 tinggal hitungan hari, tetapi penyelenggara pemilu masih dibayangi kekhawatiran akan menurunnya tingkat partisipasi pemilih.

Kecenderungan penurunan partisipasi pemilih terjadi dalam tiga pemilu yakni 1999, 2004, dan 2009. Pada 1999 animo masyarakat untuk ikut pemilu sekitar 90 persen, 2004 turun menjadi 80 persen, dan 2009 turun lagi menjadi sekitar 70 persen.

Kekhawatiran bahwa akan terjadi penurunan lagi pada Pemilu 2014 diperkuat oleh hasil survei yang dilakukan Lembaga Riset dan Polling Indonesia yang mencatat jumlah golongan putih (golput) pada Pemilu 2014 diperkirakan melebihi 50 persen.

“Hanya 38,4 persen responden yang akan menggunakan hak suaranya, 23,4 persen memilih golput, 37 persen menyatakan masih ragu apakah akan memilih,” kata Koordinator Tim Telepolling Taufik Hidayat dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Hasil tersebut mencerminkan apatisme publik dalam memberikan hak suara yang dikhawatirkan membuat angka golput bisa melebihi 50 persen sehingga legitimasi hasil pemilu bisa dipermasalahkan.

Menurut dia, kepercayaan publik yang rendah terhadap parpol terjadi akibat rendahnya kualitas anggota parlemen yang diusung parpol, banyaknya anggota legislatif yang terlibat korupsi dan tidak tercapainya target legislasi akibat perekrutan kader bermasalah yang dilakukan oleh parpol.

Survei dilakukan via telepon dengan responden sebanyak 702 orang yang dipilih secara acak. Para responden merupakan pelanggan telepon kabel yang sudah mempunyai hak pilih.

Telepolling tersebut dilaksanakan pada 15 November hingga 19 Desember 2013 di 15 kota besar di Indonesia. Kelima belas kota tersebut yakni Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Makassar, Jayapura, Ambon, Mataram, Manado, Banjarmasin dan Padang.

Namun, survei dari lembaga lain memberikan harapan positif karena menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemiilih pada Pemilu 2014 akan mencapai angka yang menggembirakan.

Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) bekerja sama dengan Internasional Foundation for Electoral System (IFES) menunjukkan 90 persen masyarakat Indonesia akan berpartisipasi dalam Pemilu 2014.

“Ini menunjukan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi pada sistem demokrasi,” kata Direktur Pusat Peneliti IFES Rakesh Sharma beberapa waktu lalu.

Dalam survei itu LSI dan IFES memotret persepsi masyarakat terhadap pemilu 2014. Survei dilaksanakan pada Desember 2013, dengan responden 1.890 di 33 provinsi di wilayah Indonesia.

Rakesh meyakini, meskipun hasil survei ini tidak bisa dianggap sebagai hasil sesungguhnya pada pemilu nanti, namun animo masyarakat pada pemilu mendatang akan tetap tinggi.

“Saya kira tidak akan 90 persen masyarakat yang memilih, tetapi setidaknya ini cerminan tingginya animo masyarakat untuk ikut, dan kemungkinan besar lebih tinggi dibandingkan 2009, atau setidaknya tidak lebih rendah,” katanya.

Survei juga menunjukkan partisipasi pada pemilu cukup tinggi baik untuk pemilih wanita maupun pria. Sebanyak 88 persen pria survei akan memilih, sedangkan wanita 91 persen.

Direktur LSI Hendro Prasetyo mngatakan selain kepercayaan terhadap sistem demokrasi, juga ada kepercayaan bahwa pemilu dapat melakukan perubahan.

“Meskipun tidak mayoritas memang tapi ada kepercayaan mengikuti partisipasi pemilu untuk perubahan,” katanya.

Selain tingkat partisipasi pemilih, dua lembaga tersebut juga melakukan survei terhadap tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilu yang juga menjadi salah satu faktor untuk menarik masyarakat pemilih menyalurkan hak suaranya.

Hasil survei itu menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden mempercayai penyelenggara pemilu baik Komisi Pemilihan Umum nasional, provinsi maupun kabupaten/Kota serta Badan Pengawas Pemilu.

“Hasil ini seharusnya menjadi amunisi bagi penyelenggara pemilu untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menyelenggarakan pemilu,” kata Hendro Prasetyo.

Survei mendapati, 76 persen responden percaya dengan KPU nasional, 77 persen pada KPU provinsi, 79 persen pada KPU Kabupaten atau Kota dan 75 persen pada Bawaslu.

Selain itu, mayoritas responden (di atas 55 persen) juga merasa puas dengan kinerja KPU mulai dari pendidikan pemilu kepada masyarakat (60 persen), memastikan hasil pemilu yang akurat (61 persen), mempertahankan independensi dari tekanan politik (56 persen) hingga menyusun serta membuat daftar pemilih tetap yang akan digunakan dalam pemilu (63 persen).

Tidak bisa jadi patokan

Meskipun survei yang lebih baru itu menunjukkan hasil menggembirakan, tetapi menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Husni Kamil Manik tidak bisa dijadikan patokan. Meski demikian dengan hasil survei tersebut, KPU paling tidak memperoleh gambaran tentang partisipasi masyarakat.

“Tinggal bagaimana kami meyakinkan agar ini menjadi kenyataan, ini kan masih hanya bayangan, setidaknya sama atau lebih tinggi dari target di RPJMN sebesar 75 persen,” katanya.

Untuk mencapai target tersebut penyelenggara Pemilu 2014 telah melakukan berbagai langkah seperti merekrut relawan demokarasi untuk membantu menyosialisasikan pemilu kepada masyarakat, memberikan pendidikan politik bagi kalangan pemilih pemula, terus menyempurnakan daftar pemilih tetap, serta beberapa upaya lain.

Golput memang selalu menjadi titik kekhawatiran penyelenggara pemilu, namun dengan berbagai upaya yang terus disempurnakan angka golput diharapkan dapat ditekan serendah mungkin.

Penyelenggara pemilu memang tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai tingkat partisipasi pemilih yang tinggi karena partai politik juga memiliki peran cukup besar. Dengan mengajukan calon anggota legislatif yang kredibel, anti-korupsi, dan mengutamakan kepentingan rakyat, masyarakat tentu akan dengan senang hati datang ke tempat pemungutan suara.

Karena itu, dengan koordinasi dan kerja sama yang baik antara penyelenggara, pengawas dan peserta, helatan Pemilu 2014 diharapkan akan mencapai sukses. Semoga.

 (Sumber: ANTARA)

Sunday, 16 March 2014

Otonomi Khusus Sebagai “Creative Destruction”

Oleh : Petrus K. Farneubun

Otonomi khusus (Otsus) telah berusia 13 tahun. Selama periode ini, pro dan kontra terus mewarnai perjalanan UU Otonomi Khusus. Kelompok pro otsus berargumen bahwa otonomi khusus merupakan solusi terbaik untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua.